Langsung ke konten utama

Inspirasi pagi hari


Ketika matahari mulai muncul diufuk timur, dekatkan hatimu pada dia yang kau cinta meski jauh ragamu. Bertawassul melalui doa-doa yang kau panjatkan dengan penuh rasa.
Tidakkah kau lihat betapa bahagia matahari ketika nampak. Melihat para insan sedang bahagia. Sinarnya menerpa daun-daun hijau yang segar nan berembun. Hirup udaranya, rasakan kesegarannya dan jangan lupa ucapkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmatNya. Nikmat Sehat, Nikmat Rasa, nikmat dapat bangun kembali, dan atas segala yang ia limpahkan pada kita. ALHAMDULILLAH.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Cuitan Perihal Cinta

duduk termangu menatap layar laptop di sudut ruang. niatnya ingin menulis cerita atau apapun, namun seketika itu pikirannya sedikit kalut dan bingung. ide cerita yang sudah dirangkai selama perjalanan menuju kampus, tiba-tiba lenyap begitu saja termakan oleh etik, menit, dan jam. tanpa diharapkan, sesosok gagah masuk kedalam ruangan. dan entah kenapa kehadirannya menghadirkan ide tak terduga. entahlah,, mungkin ini agak sedikit berlebihan. tapi, ya sudahlah biarkan saja mengalir apa adanya. ditemani alunan melodi dari laptop milik teman yang duduk di bangku depan, aku mulai menulis cerita, cerita tentang seorang perempuan yang hanya mampu menunggu, tanpa tahu kapan ia akan bertemu. sedikit menyakitkan memang, namun kuharap kalian menikmatinya. ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan laki-laki di muka bumi. namun hati perempuan yang bernama Gladis itu, tertambat pada seorang lelaki hitam manis, keren, namun sedikit urakan. namanya Bim. hati memang tak bisa dipaksakan, pada siapa...

Puisi pendek bagus

KERINGAT HITAM Oleh : Yx Peluh Diatas hitam Hitam Dibawah terik Biduk Mengapung Berlayar jauh Semilir angin terasa begitu panas Jala Payang Entah apa yang kau gunakan Caping Kaos oblong Hitam Penuh peluh Mungkin itu kau, Nelayan Pejuang ombak dan badai laut

Kisah dalam puisi

LINDAP HARAP Oleh : Vina Aizana Aku tak ubahnya akar tanpa air Pun tak ubahnya raga tanpa nyawa Kering dalam basah Lunak dalam keras Aku tak ubahnya daun jatuh yang tertiup angin Tanpa arah, Tak tahu hendak kemana Hanya menyusuri padang rumput penuh ilalang Menelaah setapak demi setapak jalan terjal bebatuan Aku sedikit kedinginan Namun malam semakin merengkuhku Hingga dingin semakin merayapi tubuhku Lunglai Aku hilang harap Dibawah lunar yang purnama Aku berkelana Berbekal sedikit daya dan upaya