Langsung ke konten utama

Postingan

Eid Mubarok

  Terbesit di pikiran ketika momen ini ( hari raya ) datang kembali membawa eudomonia. Ada percikan-percikan partikel cinta dari orang-orang sekitar. Begitu indah hari ini. Dahulu, rasa sungkan dan enggan untuk bertemu orang-orang yang sebenarnya jarang kujumpai sering muncul tanpa kuminta. Sekarang, semakin dewasa aku menjadi semakin tahu bahwa hidup bermasyarakat itu harus bisa beradaptasi terhadap sekitar. Social skill yang telah tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, juga pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadikan ku belajar tentang bagaimana bersosial yang baik, sehingga menjadikan semuanya terasa lebih mudah. Meski, pasti semua orang memiliki rasa yang kurang srek terhadap seseorang. Itu menjadi hal yang manusiawi dan pasti dirasakan oleh semua orang dengan tanggapan yang berbeda-beda. Ada dari mereka yang cuek terhadapa respon seseorang yang diberikan kepadanya, ada yang dipikir terus sampai stres. Itulah manusia. Mereka memiliki cara pandang dan respek yang heterogen. A...

Inspirasi pagi hari

Ketika matahari mulai muncul diufuk timur, dekatkan hatimu pada dia yang kau cinta meski jauh ragamu. Bertawassul melalui doa-doa yang kau panjatkan dengan penuh rasa. Tidakkah kau lihat betapa bahagia matahari ketika nampak. Melihat para insan sedang bahagia. Sinarnya menerpa daun-daun hijau yang segar nan berembun. Hirup udaranya, rasakan kesegarannya dan jangan lupa ucapkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmatNya. Nikmat Sehat, Nikmat Rasa, nikmat dapat bangun kembali, dan atas segala yang ia limpahkan pada kita. ALHAMDULILLAH.

Puisi pendek bagus

KERINGAT HITAM Oleh : Yx Peluh Diatas hitam Hitam Dibawah terik Biduk Mengapung Berlayar jauh Semilir angin terasa begitu panas Jala Payang Entah apa yang kau gunakan Caping Kaos oblong Hitam Penuh peluh Mungkin itu kau, Nelayan Pejuang ombak dan badai laut

Kisah dalam puisi

LINDAP HARAP Oleh : Vina Aizana Aku tak ubahnya akar tanpa air Pun tak ubahnya raga tanpa nyawa Kering dalam basah Lunak dalam keras Aku tak ubahnya daun jatuh yang tertiup angin Tanpa arah, Tak tahu hendak kemana Hanya menyusuri padang rumput penuh ilalang Menelaah setapak demi setapak jalan terjal bebatuan Aku sedikit kedinginan Namun malam semakin merengkuhku Hingga dingin semakin merayapi tubuhku Lunglai Aku hilang harap Dibawah lunar yang purnama Aku berkelana Berbekal sedikit daya dan upaya